Dalam upaya pengembangan masyarakat, komunikasi merupakan suatu bagian vital dan penting. Dikatakan vital dan penting karena komunikasi merupakan sarana utama dalam membangun hubungan antara komunitas dengan pihak luar yang ingin mengembangkan komunitas tersebut. Dalam komunikasi terdapat proses-proses yang merupakan sebuah alur yang dilalui dalam menjalankan komunikasi. Namun pada kenyataannya proses-proses komunikasi dalam suatu komunitas mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan perubahan dan perkembangan komunitas itu sendiri. Perubahan komunitas itu sendiri terkait mengenai pembagian kerja, penurunan nilai dan norma tradisional, peningkatan kontrol dan differensial sosial. Oleh karena itu, dalam perkembangan suatu komunitas diperlukan suatu proses-proses dan pola komunikasi yang berlandaskan kepada komunikasi sosial yang berlangsung dalam suatu masyarakat. Komunikasi sosial sendiri adalah suatu komunikasi yang tidak semata-mata hanya terkait tentang media massa dan teknologi, tetapi lebih mengarah pada interaksi manusia dalam masyarakat di setiap komunitas dan budayanya.
Elemen-elemen dalam komunikasi sosial yaitu: (a) angka partisipasi, (b) masyarakat, (c) fungsi informasi, interpretasi dan hiburan, dan (d) budaya kelompok. Namun elemen-elemen tersebut yang terkait dalam artikel ini yaitu partisipasi, masyarakat, fungsi informasi dan budaya. Atau disimpulkan bahwa semua elemen dalam komunikasi sosial terdapat dalam artikel ini. Berikut ini ulasan singkatnya:
a. Partisipasi
Partsipasi merupakan bentuk sikap aktif untuk bekerjasama, dan menjadi suatu hal yang baik untuk menjadi salah satu langkah untuk menyuburkan interaksi yang harmonis. Partsipasi ini sebenarnya telah menjadi kekayaan masyarakat Maluku sebelum terjadi konflik perpecahan, dimana sebelum hal ini terjadi, dua keyakinan yang berbeda hidup berdampingan dan saling bergotong royong jika ada yang memerlukan banyak tenaga (hal.6). Partisipasi terbentuk bila diawali dengan komunikasi tatap muka interpersonal. Hal ini menumbuhkan kebersamaan dan komunitas yang kuat. Ini juga terlihat dalam masyarakat desa Idamdehe ketika membangun sekolah.
b. Masyarakat
Ketika berbicara mengenai komunikasi sosial, hal yang harus ada adalah masyarakat atau komunitas yang akan menjalani komunikasi itu sendiri. Dalam artikel ini terdiri suatu masyarakat yang berada dalam satu payung yang sama yaitu “etnisitas” (hal.1), dimana dalam satu payung tersebut terdapat dua keyakinan yang berbeda yang dalam kehidupannya disatukan dan diikat dalam suatu kesamaan etnis.
c. Informasi
Terkait dengan komunikasi, informasi merupakan suatu modal dalam komunikasi itu sendiri, dimana informasi tersebut dibungkus dalam satu pesan untuk didistribusikan oleh sumber kepada penerima pesan. Dalam kaitannya dengan masalah dalam artikel ini, informasi yang seharusnya diperoleh setiap individu masyarakat, kini porsinya telah berkurang, lantaran disebabkan oleh terdegradasinya pola komunikasi interpersonal tatap muka, sehingga jalinan komunikasi diantara mereka semakin terbatas, sehingga memungkinkan terjadinya misscommunication dan berujung pada kesalah pahaman dan konflik. Karena kurangnya interaksi komunikasi itulah menyebabkan satu sama lain tidak memiliki informasi yang benar dan akurat.
d. Budaya
Budaya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam masyarakat. Masyarakat yang berbeda memiliki budaya yang berbeda. Dengan budaya yang berbeda pola komunikasinya pun berbeda yang disesuaikan dengan budaya tersebut. Di tengah masyarakat Maluku terdapat budaya yang unik yang berpengaruh terhadap pola komunikasi. Mekanisme tradisional yang disebut pela (hal.6) menjadi salah satu hal untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dimana dua keyakinan yang berbeda mampu hidup berdampingan bahkan saling bersikap arif dengan diwujududkan dalam bergotong royong. Namun mekanisme tradisional ini tergerus oleh sistem pemerintahan yang sangat terpusat.

Cara untuk membangun komunikasi sosial di komunitas tersebut yang telah sekian tahun mengalami perpecahan dan konflik yang sesuai konteks pengembangan masyarakat adalah dengan mengidupkan kembali elemen-elemen komunikasi sosial yang sebenarnya telah ada dalam komunitas ini. Dengan masyarakat yang heterogen ini hendaknya kembali membuka kembali payung yang sempat ditutup yakni kesamaan rasa dalam satu budaya yang dibina dalam komunikasi yang intens dalam wujud komunikasi interpersoanal tatap muka yang memungkinkan satu sama lain untuk memiliki informasi yang sama, dimana dengan kesamaan informasi atau pesan ini akan meminimalisir kesalah pahaman. Selain itu, komunikasi tatap muka jika dilaksanakan secara terus-menerus akan menumbuhkan kembali sikap partisipasi (gotong royong) yang berdampak pada lahirnya kembali rasa kebersamaan, saling memiliki dan tentunya turut menjaga budaya pela yang selama ini oleh terkikis oleh pola pemerintah yang tidak tepat.

Diambil dari analisis praktikum Mata kuliah Pengembangan Masyarakat
Departemen KPM

Permasalahan di era ini semakin beragam dan kompleks. Kesenjangan dan ketidakseimbangan kehidupan menjadi fokus setiap individu, organisasi, pemerintah bahkan masyarakat seluruh dunia untuk dipecahkan dan mencari solusi. Fenomena yang menjadi perhatian setiap mata penduduk dunia pada umumnya saat ini adalah permasalahan lingkungan dan semakin terkikisnya sumberdaya alam yang merupakan pendukung kehidupan manusia. Kerusakan hutan, krisis energi dan pemanasan global adalah contoh polemik yang menjadi gambaran situasi dunia saat ini. Semua pihak kini berlomba-lomba untuk merumuskan solusi untuk mengatasi keadaan ini. Organisasi dunia, pemerintahan setiap negara, lembaga swadaya, institusi pendidikan bahkan hingga komunitas kecil dalam masyarakat kini gencar menganalisis dan mencari jalan keluar. Setiap negara telah menetapkan aturan atau undang-undang tertulis untuk mengatasi persoalan lingkungan dan kajian sumberdaya alam. Namun pada realitanya, setiap kebijakan yang terwujud dalam perundang-undangan tersebut tidak serta merta memberikan dampak dan solusi secara langsung. Yang terjadi justru bertolak belakang dengan setiap usaha-usaha tersebut. Hal ini tergambar dengan semakin gencarnya eksploitasi sumberdaya alam secara besar-besaran yang menyebabkan kerusakan lingkungan yang fatal.
Keadaan hutan yang semakin gundul akibat pembalakan dan pembakaran liar, kuantitas sampah yang semaikin meningkat, pembangunan dan pengembangan usaha properti yang kurang memperhatikan dampak lingkungan dan meningkatnya jumlah kendaraan menjadi salah satu permasalahan dan penyebab kondisi lingkungan yang semakin krisis. Dampak yang ditimbulkan muncul dalam rentang waktu yang singkat dan menyentuh sendi kehidupan manusia yang menghaambat aktivitas dan kebutuhan manusia sendiri, dimana dampak tersebut seperti minimnya persediaan air bersih, banjir di tengah kota akibat sampah dan pelimpahan air hujan dari hulu yang tak tertampung oleh pohon dan tanah, suhu yang semakin meningkat serta cuaca yang senantiasa berubah-ubah tidak menentu.
Dalam situasi yang demikian, segala bentuk usaha diupayakan agar akibat yang ditimbulkan kerusakan lingkungan dan sumber daya alam ini dapat diminimalisir. Namun ketika semua mata tertuju pada suatu cara yang birokratif dan formal sebagai langkah praktis mengatasi persoalan ini, terdapat satu model kehidupan masyarakat yang turut serta berpartisipasi menanggulangi keadaan ini. Tentu dengan menggunakan cara atau pendekatan yang berbeda namun secara langsung menyentuh setiap individu dan realitas tata cara hidup. Ini tergambar dalam bentuk pola masyarakat tradisional yang senantiasa menyeimbangkan antara alam dengan tata kehidupan (gaya hidup) melalui wawasan adat dan budaya yang dipegang teguh sebagai nilai dan norma yang harus dipegang dan ditaati. Keunikan dan semangat menjaga lingkungan oleh masyarakat Kampung Naga kabupaten Tasikmalaya ini dapat menjadi contoh bagaimana masyarakat modern memiliki kesadaran dan menerapkan gaya hidup yang ramah terhadap lingkungan. Adat dan budaya masyarakat ini menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh setiap akademisi maupun pemerintah pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Kelembagaan iniformal yang terdapat di Tasikmalaya ini yang mampu berkontribusi untuk melestarikan lingkungan dan menjaga keseimbangan alam dan kehidupan.
Seperti telah kita ketahui bersama, salah satu dampak dari medernisasi yang menjangkiti masyarakat Indonesia, tanpa kita sadari telah mengikis dan mengkroposkan secara perlahan kearifan lokal dan budaya masyarakat. Dimana tidak sedikit dari budaya dan adat yang ada di msyarakat ini memiliki suatu pemikiran yang jernih dan bijaksana dalam mengelola sumber daya alam. Berangkat dari masalah lingkungan ini kita dapat beranjak ke dalam permasalahan yang lain yang diharapkan dapat membantu masalah ini. Untuk mengatasi masalah lingkungan, kita perlu berangkat untuk segera mengevaluasi dan mengatasi permasalahan krisis budaya, dimana dalam budaya tersebut tertanam kelembagaan formal yang mampu mengerahkan masyarakat yang memegang budaya itu untuk mampu mengelola dan memelihara kelestarian lingkungan.

Oleh: Yakob Arfin Tyas Sasongko

Peran Kepemimpinan dalam Kelompok kerja
Pemimpin formal adalah seseorang yang ditunjuk atau ditugaskan secara formal oleh organisasi untuk memimpin orang-orang dalam melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan pemimpin informal adalah seseorang yang secara alamiah memainkan perannya sebagai pemimpin ketika kelompok kerja telah bekerja dan saling berinteraksi. Menurut kaidah, para pemimpin atau manajer adalah manusia-manusia super lebih daripada yang lain, kuat, gigih, dan tahu segala sesuatu (White, Hudgson, dan Crainer, 1997). Para pemimpin juga merupakan manusia yang jumlahnya sedikit tetapi perannya dalam organisasi merupakan satu diantara banyak indikator keberhasilan dan kesuksesan tujuan yang hendak dicapai organisasi atau kelompok kerja tersebut.
Berangkat dari ide-ide dan pemikiran, visi para pemimpin ditentukan arah perjalanan suatu organisasi. Walaupun bukan satu-satunya indikator keberhasilan dari tingkat kinerja organisasi, tetapi kenyataannya kehadiran pemimpin akan mempengaruhi organisasinya agar tidak bersifat statis dan berjalan tanpa arah. Beberapa ahli teori mengemukakan tentang pandangan kemunculan pemimpin besar adalah hasil dari waktu, tempat dan situasi sesaat (Galton, 1897). Ada dua hipotesis yang dikembangkan tentang kepemimpinan yaitu:
1. Kualitas pemimpinan dan kepemimpinan yang tergantung kepada situasi kelompok.
2. Kualitas individu dalam mengatasi situasi sesaat merupakan hasil kepemimpinan terdahulu yang berhasil dalam mengatasi situasi yang sama (Hocking dan Boggardus, 1994).
Burlund dan Haiman mengungkapkan perilaku kepemimpinan adalah perilaku yang membimbing, mempengaruhi dan mengarahkan ataupun mengontrol yang lain dalam kelompok. Ada dua macam perilaku kepemimpinan, pertama perilaku yang berorientasi tugas (task oriented) dan kedua yaitu perilaku orientasi hubungan (relation oriented).
Fungsi Komunikasi Kelompok
Keberadaan kelompok dalam sebuah institusi baik pendidikan maupun masyarakat dicerminkan dengan adanya fungsi-fungsi yang akan dilaksanakannya. Fungsi tersebut mencakup fungsi hubungan sosial, pendidikan, persuasi, pemecahan masalah, dan pembuatan keputusan dan fungsi terapi. Semua fungsi ini dimanfaatkan untuk pembuatan kepentingan masyarakat, kelompok dan para anggota itu sendiri.
1. Fungsi pertama dalam kelompok adalah hubungan sosial, dalam arti bagaimana suatu kelompok mampu memelihara dan memantapkan hubungan sosial diantara anggotanya. Seperti melakukan aktivitas informal, santai, dan menghibur.
2. Pendidikan adalah fungsi kedua dari kelompok, melalui fungsi pendidikan maka kebutuhan-kebutuhan dari para anggota kelompok dapat terpenuhi. Tetapi, fungsi pendidikan dalam kelompok akan sesuai dengan yang diharapkan atau tidak, bergantung pada tiga faktor, yaitu jumlah informasi baru yang dikontribusikan, jumlah partisipan dalam kelompok serta frekuensi interaksi antar anggota kelompok.
3. Dalam fungsi persuasi, seorang anggota kelompok berupaya mempersuasikan anggota lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
4. Fungsi kelompok juga dicerminkan dengan kegiatan-kegiatannya untuk memecahkan persoalan dan membuat keputusan-keputusan.
5. Terapi adalah fungsi kelima dari kelompok. Kelompok terapi memiliki perbedaan dengan kelompok lainnya karena kelompok terapi tidak memiliki tujuan. Contohnya yaitu kelompok konsultasi perkawinan, kelompok penderita narkotika, kelompok perokok berat, dll.